Perilaku merokok pada remaja kini menjadi isu kesehatan yang semakin memprihatinkan di berbagai negara, termasuk Indonesia. Merokok sejak usia muda diketahui meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, gangguan saluran pernapasan, serta ketergantungan nikotin di masa depan, yang pada akhirnya dapat menambah beban kesehatan jangka panjang bagi generasi muda jika tidak segera dikendalikan (West, 2017).
Masa remaja yang penuh rasa ingin tahu dan mencaru jati diri agar lebih mudah mengenal lingkungan luar, khususnya teman sebaya. Tekanan kelompok dan keinginan untuk diterima sering kali menjadi alasan utama remaja mulai merokok, ditambah dengan paparan iklan rokok melalui berbagai media yang mendorong rasa penasaran untuk mencoba (Yeni Rosilawati et al., 2024).
Selain menimbulkan dampak fisik, kebiasaan merokok juga berpengaruh pada aspek psikososial remaja. Kandungan nikotin yang bersifat adiktif membuat remaja lebih rentan mengalami ketergantungan dan berpotensi mencoba zat adiktif lain di kemudian hari, serta menimbulkan beban ekonomi bagi diri sendiri maupun keluarga (Akter et al., 2023). Secara keagamaan, iwajibkan untuk menjaga kesehatan dan menjauhi hal yang berbahaya. Prinsip ini tercermin dalam Firman Allah dalam Al-Qur’an:
“Sesungguhnya Allah tidak mencintai sesuatu yang berlebih-lebihan…”
(HR. Ahmad dan At-Tirmidzi)
Meskipun hadis ini berbicara umum, banyak ulama menjelaskan bahwa prinsip ini mencakup segala bentuk kebiasaan yang berlebihan dan membahayakan, termasuk konsumsi zat berbahaya yang dapat merusak tubuh karenanya merokok dipandang tidak sejalan dengan ajaran Islam yang menekankan menjaga kesehatan dan kehidupan.
Hindarilah berada di lingkungan teman yang sedang merokok dan pahami bahwa bersosialisasi tidak harus dilakukan dengan ikut merokok. Beranilah menyatakan bahwa Anda bukan perokok sebagai bentuk komitmen menjaga kesehatan diri. Tingkatkan pemahaman mengenai berbagai dampak negatif rokok, serta jauhi segala hal yang berhubungan dengan produk tembakau, seperti iklan, sponsor, poster promosi, maupun pembagian rokok gratis. Gunakan waktu luang untuk kegiatan yang lebih bermanfaat dan menyehatkan, seperti berolahraga, membaca, atau menekuni hobi positif.
Perlu disadari bahwa merokok tidak hanya membahayakan perokok aktif, tetapi juga orang di sekitarnya yang terpapar asap rokok, baik secara langsung maupun tidak langsung, dengan risiko gangguan fungsi otak, kanker paru dan tenggorokan, penurunan kekuatan tulang dan otot, gangguan fungsi seksual, hingga kematian.
Jangan biarkan asap rokok mencuri masa depanmu.
Penulis : Anggie Rizqi Aldila, Divisi Tobbaco Control, POKJA
Referensi :
West, R. (2017). Tobacco smoking: Health impact, prevalence, correlates and interventions. Psychology & Health, 32(8), 1018–1036. https://doi.org/10.1080/08870446.2017.1325890
Rosilawati, Y., (atau Rosilawati, Y., dkk jika nama penulis lengkap tidak diketahui dari sumber aslinya) (2024). Tobacco use among in-school young adolescents in Indonesia: Exploring availability, affordability, and accessibility. PLoS ONE, 19(3), e0301291. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0301291
Akter, S., Yiengprugsawan, V., Seubsman, S., & Sleigh, A. (2023). Evaluation of population-level tobacco control interventions and health outcomes: A systematic review and meta-analysis. JAMA Network Open, 6(7), e22322341. https://doi.org/10.1001/jamanetworkopen.2023.322341
























