Scroll Terus, Tertawa Sebentar, Kosong Lebih Lama
Kita hidup di zaman ketika jari lebih sibuk daripada pikiran. Scroll terus, tertawa sebentar, lalu kosong lebih lama. Bukan karena hidup kita tidak bermakna, tetapi karena otak kita kelelahan oleh hiburan yang tak pernah berhenti. Setiap jeda sunyi segera diisi layar. Setiap rasa bosan langsung ditebus dengan video singkat, meme cepat, atau konten instan yang datang silih berganti tanpa memberi ruang bernapas.
Banyak orang menyebut kondisi ini sebagai otak rusak. Padahal, otak kita tidak rusak. Ia lelah. Dalam psikologi modern, fenomena ini dikenal dengan istilah brainrot: keadaan ketika otak terbiasa pada rangsangan instan, fokus memendek, dan pikiran cepat letih meski tidak melakukan kerja berat.
Apa Itu Brainrot dalam Psikologi?
Istilah brainrot memang populer di media sosial, tetapi substansinya nyata dalam kajian psikologi kognitif. Brainrot menggambarkan kondisi ketika otak terus-menerus menerima stimulasi cepat, dangkal, dan berulang. Konten pendek, lucu, dan instan memberi kepuasan cepat melalui dopamin, tetapi tidak memberi makna jangka panjang.
Akibatnya, otak kehilangan toleransi terhadap proses yang lambat. Membaca panjang terasa melelahkan. Berpikir mendalam terasa berat. Diskusi serius terasa membosankan. Fokus memendek bukan karena kecerdasan menurun, tetapi karena otak dilatih untuk selalu “lompat” dari satu rangsangan ke rangsangan lain.
Psikologi menyebut ini sebagai overstimulation. Ketika otak terlalu sering distimulasi tanpa jeda refleksi, ia memasuki fase kelelahan mental. Ironisnya, kita merasa lelah justru setelah “hiburan”.
Hiburan yang Menguras, Bukan Memulihkan
Secara alami, hiburan seharusnya memulihkan energi mental. Namun dalam era algoritma, hiburan berubah menjadi konsumsi tanpa henti. Kita tidak lagi memilih tontonan; tontonanlah yang memilih kita. Setiap konten dirancang untuk membuat kita bertahan lebih lama, bukan berpikir lebih dalam.
Inilah paradoks brainrot: semakin sering kita mencari hiburan untuk mengusir lelah, semakin lelah pula pikiran kita. Kita tertawa sebentar, tetapi kehilangan kemampuan untuk duduk tenang. Kita terhibur sesaat, tetapi merasa hampa setelahnya.
Dalam jangka panjang, kondisi ini memengaruhi emosi, produktivitas, bahkan relasi sosial. Kita mudah bosan, cepat jenuh, dan sulit hadir sepenuhnya dalam percakapan nyata.
Al-Qur’an dan Manusia yang Kehilangan Kesadaran
Menariknya, Al-Qur’an telah lama mengingatkan kondisi manusia yang memiliki potensi kesadaran, tetapi gagal menggunakannya. Dalam Surah Al-A‘raf ayat 179, Allah berfirman:
“Dan sungguh, Kami jadikan untuk (isi neraka Jahanam) banyak dari jin dan manusia; mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami, mempunyai mata, tetapi tidak dipergunakannya untuk melihat, dan mempunyai telinga, tetapi tidak dipergunakannya untuk mendengar. Mereka itu seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat. Mereka itulah orang-orang yang lalai.”
Ayat ini bukan tentang kerusakan fisik. Mereka memiliki hati, mata, dan telinga. Artinya, potensi berpikir dan memahami tetap ada. Masalahnya adalah kelalaian tidak digunakannya kesadaran secara utuh.
Dalam konteks hari ini, brainrot bukan kehilangan akal, tetapi kegagalan menggunakannya secara bermakna karena tenggelam dalam distraksi tanpa henti.
Lalai di Era Layar
Lalai yang dimaksud Al-Qur’an bukan selalu soal dosa besar, tetapi tentang hidup tanpa kesadaran. Ketika hati tidak lagi merenung, mata hanya melihat tanpa memahami, dan telinga hanya mendengar tanpa menyimak, manusia kehilangan kedalaman hidupnya.
Media sosial dan hiburan instan mempercepat proses kelalaian itu. Kita tahu banyak hal, tetapi memahami sedikit. Kita melihat banyak, tetapi merenungi jarang. Kita mendengar banyak suara, tetapi kehilangan makna.
Brainrot adalah bentuk baru dari kelalaian modern: kesadaran yang terus terganggu, bukan dimatikan.
Otak yang Lelah Butuh Makna, Bukan Tambahan Konten
Solusi brainrot bukan memusuhi teknologi, tetapi mengembalikan kesadaran dalam menggunakannya. Psikologi menyarankan jeda, deep focus, dan aktivitas bermakna. Al-Qur’an mengajarkan tadabbur, tafakkur, dan kehadiran hati.
Otak tidak selalu butuh hiburan baru. Ia butuh keheningan, makna, dan keterhubungan dengan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar tawa sesaat. Membaca, berdialog, berdoa, atau sekadar diam dengan sadar adalah bentuk pemulihan yang sering kita lupakan.
Dari Scroll ke Sadar
Fenomena brainrot mengingatkan kita pada satu hal penting: kelelahan mental zaman ini bukan karena kita terlalu banyak berpikir, tetapi karena terlalu jarang merenung. Kita sibuk mengisi waktu, tetapi lupa mengisi makna.
Otak kita tidak rusak. Ia kelelahan oleh hiburan yang tak pernah berhenti. Dan seperti yang diingatkan Al-Qur’an, bahaya terbesar bukan kehilangan potensi, melainkan hidup dalam kelalaian. Mungkin, yang kita butuhkan bukan konten baru, tetapi keberanian untuk berhenti sejenak dari scroll yang tak usai dan kembali menjadi manusia yang sadar.






























