Dilema Prioritas dalam Peradaban Modern
Dalam hiruk-pikuk kehidupan modern, di mana ekonomi global didominasi oleh diskursus tentang ketahanan pangan, gizi, dan kesejahteraan material, manusia seakan terjebak dalam sebuah paradoks peradaban. Kita hidup di era yang paling makmur secara material dalam sejarah umat manusia, namun sekaligus di era yang paling rentan secara spiritual dan intelektual. Sebagai seorang penulis dan profesor yang telah menghabiskan tiga dekade mengamati dinamika sosial-intelektual dari berbagai peradaban, saya menemukan sebuah pola yang menggelisahkan: kita telah membalikkan hierarki kebutuhan manusia yang hakiki.
Setiap hari, media massa, pemerintah, dan organisasi internasional membombardir kita dengan istilah “MBG” – Masyarakat Berkebutuhan Gizi.Laporan-laporan statistik tentang kekurangan gizi, program bantuan pangan, dan kampanye kesehatan mengisi ruang publik kita. Semua ini penting, bahkan vital. Namun, kita hampir tidak pernah mendengar seruan yang sama kuatnya tentang “Masyarakat Berkebutuhan Bacaan” – tentang kelaparan intelektual yang sama parahnya, jika tidak lebih berbahaya, daripada kelaparan fisik.
Di titik inilah kita perlu merenungkan sebuah peristiwa transformatif dalam sejarah spiritual manusia, yang terjadi di sebuah gua sunyi di Jabal Nur, Mekkah, pada tahun 610 Masehi. Saat itu, Nabi Muhammad ﷺ, dalam keadaan bertafakur, menerima wahyu pertama. Kata-kata pertama yang turun dari langit bukanlah tentang makanan, ekonomi, politik, atau ritual. Ia adalah perintah yang sederhana namun paling revolusioner dalam sejarah pemikiran manusia: “Bacalah!” (Iqra’).
Perintah ini, yang diulang tiga kali dalam ayat pertama hingga kelima Surat Al-‘Alaq, menetapkan sebuah fondasi peradaban yang sering kita lupakan dalam diskursus kontemporer tentang pembangunan dan kesejahteraan. Esai ini akan mengajak pembaca menelusuri implikasi filosofis, sosial, dan peradaban dari paradigma “Bacalah” versus “Makanlah”, serta bagaimana pemahaman yang lebih holistik tentang MBG dapat mengarahkan kita kepada konsepsi kemanusiaan yang lebih utuh.
Dalam konteks MBG (Masyarakat Berkebutuhan Gizi), kita sering terpaku pada pemenuhan fisik “makanlah”sebagai fondasi utama. Padahal, ada “gizi” lain yang sama esensialnya: gizi intelektual dan spiritual yang diperoleh melalui membaca.
- Membaca sebagai Fondasi Peradaban
Perintah “bacalah” mengisyaratkan sebuah revolusi kesadaran. Sebelum perut dipenuhi makanan, pikiran dan jiwa perlu dipenuhi cahaya pengetahuan. Membaca, dalam arti luas, adalah proses menerima, mencerna, dan merefleksikan makna. Ia adalah alat untuk memahami diri, alam, dan Sang Pencipta.
Jika “makanlah” adalah perintah untuk mempertahankan kehidupan biologis, maka “bacalah” adalah perintah untuk memulai kehidupan yang bermakna.
- MBG dalam Perspektif Holistik
Masyarakat modern sering terjebak dalam MBG yang terbatas pada dimensi material. Program bantuan pangan, suplemen gizi, dan intervensi kesehatan fisik memang vital. Namun, kita melupakan bahwa kelaparan paling berbahaya adalah kelaparan ilmu dan kelaparan makna.
Seorang anak yang perutnya kenyang tetapi pikirannya kosong dari bacaan bermutu, akan tumbuh menjadi individu yang rentan terhadap manipulasi, radikalisme, dan keputusasaan. Sebaliknya, sejarah membuktikan bahwa masyarakat yang lapar ilmu—meski dalam keterbatasan materi—sering melahirkan peradaban gemilang.
- Implikasi untuk Pendidikan dan Kebijakan Publik
Sebagai profesor, saya melihat bahwa kurikulum pendidikan kita masih terlalu berorientasi pada “memberi makan” informasi, bukan “memerintahkan membaca” dalam arti membangkitkan rasa ingin tahu dan kemampuan kritis. Membaca seharusnya bukan sekadar keterampilan mekanis, melainkan disposisi hidup.
Kebijakan publik pun perlu menyeimbangkan antara MBG fisik dan MBG intelektual. Perpustakaan, akses buku, pelatihan literasi, dan dialog keilmuan harus menjadi bagian tak terpisahkan dari program pengentasan kemiskinan.
- Kesimpulan: Dari “Iqra” hingga “Sustenance”
“Bacalah” adalah seruan abadi untuk membebaskan diri dari kebodohan dan pasifitas. Ia adalah pengingat bahwa sebelum kita sibuk memenuhi mulut dengan makanan, kita harus lebih dulu memenuhi mata dan hati dengan bacaan yang mencerahkan.
Mari kita redefinisikan MBG: Masyarakat yang tidak hanya Berkebutuhan Gizi fisik, tetapi juga Berkebutuhan Gizi jiwa dan pikiran. Sebab, manusia hidup bukan hanya dari roti, tetapi dari setiap kata yang keluar dari Pengetahuan Yang Mahatinggi.
Dengan kembali kepada pesan pertama “Iqra”, kita mungkin menemukan kunci untuk membangun peradaban yang tidak hanya survive, tetapi thrive—berkembang dengan kebijaksanaan dan cahaya.






























