Saya bukan kader inti Muhammadiyah, tapi sejak kecil hidup di lingkungan yang penuh dengan jejak organisasi ini.. Saya lihat sendiri bagaimana Muhammadiyah jadi penyelamat bagi ribuan keluarga biasa: anak yatim dapat beasiswa, korban banjir dapat bantuan cepat, pasien miskin dirawat tanpa bayar mahal. Di awal tahun ini, dimana Muhammadiyah sudah berusia 113 tahun, saya semakin kagum. Organisasi ini punya ribuan sekolah, ratusan rumah sakit, panti asuhan, dan amal usaha lain yang terus berkembang. Buat saya, ini bukti nyata bahwa Muhammadiyah benar-benar gerakan yang peduli umat, bukan cuma organisasi besar yang punya aset melimpah.
Tapi, kalau jujur, saya sering dengar keluhan dari teman-teman dan keluarga. Banyak yang bilang, “Sekolah Muhammadiyah kok sekarang mahal ya? SPP-nya naik terus, uang gedungnya tinggi, padahal dulu katanya untuk rakyat.” Saya paham, karena memang di kota-kota besar seperti Jakarta atau Bandung bahkan di Solo dan Yogyakarta, biaya masuk sekolah unggulan Muhammadiyah bisa puluhan juta, belum lagi SPP bulanan yang kadang lebih tinggi dari sekolah negeri favorit. Banyak orang tua bilang, “Ini sudah seperti sekolah swasta biasa, tapi nama Muhammadiyahnya bikin orang berharap lebih murah.” Saya setuju, ini jadi kritik yang sering muncul di kalangan masyarakat biasa. Padahal semangat awal KH Ahmad Dahlan adalah mendirikan sekolah untuk rakyat jelata, bukan hanya untuk yang mampu.
Kedua, soal adaptasi ke era digital, saya merasa Muhammadiyah masih agak ketinggalan. Anak muda sekarang lebih suka belajar dari TikTok, YouTube, atau Instagram daripada datang ke pengajian. Tapi konten dakwah Muhammadiyah di medsos masih terkesan kaku: ceramah panjang, kajian formal, jarang yang viral atau pakai bahasa gaul yang nyambung sama generasi Z. Teman-teman saya bilang, “Kapan Muhammadiyah bikin konten seru kayak influencer muda? Atau live streaming kajian yang interaktif?” Saya lihat organisasi lain lebih lincah di sana, sementara Muhammadiyah kadang masih pakai cara lama. Ini bikin anak muda mulai kurang tertarik, padahal potensi kader muda Muhammadiyah banyak sekali.
Ketiga, regenerasi juga jadi isu. Banyak pemuda aktif di cabang atau ranting, tapi susah naik ke tingkat lebih tinggi karena sistemnya terasa birokratis. Ada yang bilang, “Kader muda sering dianggap kurang pengalaman, padahal kita sudah punya ide-ide segar.” Saya pernah ikut diskusi pemuda Muhammadiyah, banyak yang ingin bikin program digital atau entrepreneurship, tapi kadang terhambat prosedur panjang.
Saya nggak bilang ini semua salah Muhammadiyah, karena organisasi sebesar ini pasti punya tantangan besar. Tapi justru karena saya sayang sama Muhammadiyah, saya ingin kasih saran dari hati:
- Pendidikan lebih inklusif lagi – Perbanyak subsidi silang: sekolah unggulan di kota subsidi sekolah di desa. Bikin program beasiswa lebih masif untuk anak yatim, keluarga miskin, atau korban bencana. Kalau bisa, transparan soal penggunaan dana, biar orang percaya bahwa biaya tinggi itu untuk kualitas, bukan untuk untung organisasi.
- Dakwah digital yang lebih kekinian – Rekrut anak muda kreatif untuk bikin konten viral: short video tentang nilai-nilai Muhammadiyah dengan bahasa santai, kolaborasi sama influencer muda, atau bikin platform sendiri seperti aplikasi kajian interaktif. Ini bisa bikin generasi Z nggak cuma tahu Muhammadiyah dari buku sejarah, tapi dari feed mereka setiap hari.
- Regenerasi lebih terbuka – Libatkan pemuda lebih banyak di pengambilan keputusan, berikan pelatihan leadership digital, entrepreneurship, dan inovasi. Jangan takut kader muda bikin gebrakan, justru itu yang dibutuhkan supaya Muhammadiyah tetap relevan.
Muhammadiyah sudah berusia lebih dari 113 tahun, tapi semangat tajdid-nya harus terus hidup. Kritik ini bukan untuk nyinyir, tapi karena saya percaya Muhammadiyah bisa jadi lebih baik lagi. Kalau organisasi ini terus berbenah, pasti bisa tetap jadi harapan umat dan bangsa. Semoga di tahun 2026 dan seterusnya, Muhammadiyah semakin dekat dengan rakyat biasa, termasuk anak muda seperti saya. Wallahu a’lam.






























