Dalam beberapa minggu terakhir, Indonesia diguncang oleh peristiwa yang mengusik hati nurani. Dari demonstrasi yang berubah ricuh di Surakarta, hingga berita tentang ketidakadilan hukum dan ekonomi yang makin terasa di pelosok negeri. Rakyat melihat harga kebutuhan pokok melonjak, sementara kasus korupsi pejabat masih berulang. Gedung-gedung parlemen dibakar amarah, dan jalanan menjadi saksi: kepercayaan rakyat pada keadilan negara tengah rapuh.
Namun, di tengah rasa kecewa itu, umat Islam diajak untuk meneguhkan keyakinan: Allah Maha Adil. Negara bisa lalai, aparat bisa khilaf, penguasa bisa menyeleweng, tapi Allah tidak pernah keliru menakar keadilan. Dialah pemilik keadilan hakiki yang melampaui hukum buatan manusia.
Keadilan Allah: Tegak dan Tak Pernah Miring
Al-Qur’an menegaskan dengan tegas:
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adil dan berbuat ihsan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.”
(QS. An-Nahl: 90)
Ayat ini kerap dibacakan di mimbar khutbah Jumat. Pesan ini universal: adil bukan hanya urusan negara, melainkan perintah langsung dari Allah. Bila manusia gagal berlaku adil, Allah tetap akan menegakkan keadilan-Nya di dunia maupun akhirat.
Imam Al-Ghazali menyebut keadilan Allah sebagai “al-mizan al-haqiqi” timbangan yang tak bisa dimanipulasi siapa pun. Jika penguasa menyalahgunakan hukum, jika rakyat kecil tertindas, maka di hadapan Allah semua akan diperlakukan sama. Tidak ada nepotisme, tidak ada suap, tidak ada intervensi kekuasaan.
Keadilan Dunia yang Rapuh
Kita hidup di tengah sistem hukum yang sering pincang. Kasus besar bisa disulap jadi ringan, sementara rakyat kecil dihukum berat hanya karena mencuri sepotong roti atau sebatang kayu. Fenomena ini bukan hal baru. Ibn Khaldun dalam Muqaddimah-nya menulis bahwa tanda kehancuran suatu peradaban adalah ketika hukum tajam ke bawah, tumpul ke atas. Negara boleh berdiri megah, tapi tanpa keadilan, ia rapuh bagaikan bangunan tanpa fondasi.
Apa yang terjadi di Surakarta baru-baru ini adalah potret nyata: rakyat kehilangan rasa percaya, lalu menyalakan api. Gedung DPRD yang dibakar bukan sekadar bangunan, tapi simbol runtuhnya harapan pada institusi yang mestinya mewakili suara rakyat.
Namun di balik semua itu, Islam mengajarkan agar umat tetap teguh: jangan putus asa. Karena keadilan manusia memang terbatas, sementara keadilan Allah tak pernah hilang.
Allah Maha Adil: Janji yang Tak Pernah Palsu
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Takutlah kalian terhadap doa orang yang terzalimi, karena antara dia dan Allah tidak ada penghalang.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menjadi pengingat bahwa setiap tangisan rakyat, setiap doa orang miskin, setiap jeritan orang tertindas, langsung didengar Allah. Ia adalah bentuk keadilan paling cepat dan pasti: penguasa mungkin menutup telinga, tapi Allah tidak pernah.
Syekh Ibn Taimiyah menulis: “Sesungguhnya Allah menegakkan negara yang adil meskipun kafir, dan tidak akan menegakkan negara yang zalim meskipun Muslim.” Nasehat ini keras, tapi benar. Keadilan adalah hukum Allah yang universal tanpa keadilan, sebuah bangsa akan runtuh tak peduli apa agamanya.
Menjadi Umat yang Adil di Tengah Ketidakadilan
Keadilan Allah bukan alasan untuk diam. Justru keyakinan ini menjadi energi moral agar kita berani menegakkan keadilan di bumi. Islam tidak hanya memerintahkan sabar, tapi juga amar ma’ruf nahi munkar berjuang melawan ketidakadilan dengan cara yang bijak. Ketika negara tidak adil, umat Islam harus tampil menjadi penyeimbang. Dengan doa, dengan dakwah, dengan aksi sosial, bahkan dengan koreksi terhadap penguasa. Nabi Muhammad ﷺ adalah teladan: beliau tidak pernah berkompromi pada kezaliman, tetapi juga tidak pernah kehilangan kasih sayang kepada umat.
Umar bin Khattab RA, khalifah kedua, terkenal dengan keadilannya. Ia pernah berkata: “Andai ada seekor keledai jatuh di jalan Irak karena jalan yang rusak, niscaya aku khawatir Allah akan meminta pertanggungjawaban kepadaku.”Begitulah pemimpin sejati: merasa bertanggung jawab bahkan atas hal kecil.
Lalu, bagaimana dengan pemimpin hari ini?
Harapan Dari Jalanan ke Langit
Demo, unjuk rasa, dan kritik sosial adalah bagian dari ikhtiar rakyat untuk mencari keadilan. Namun umat juga diajarkan untuk mengangkat tangan ke langit, karena doa orang terzalimi tak pernah sia-sia.
Mungkin di dunia, penguasa bisa lolos. Tetapi di hadapan Allah, tidak ada kuasa yang mampu menolong. Firman Allah:
“Dan janganlah sekali-kali kamu mengira bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Dia hanya memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak.”
(QS. Ibrahim: 42)
Ayat ini adalah pelipur lara bagi rakyat. Kezaliman boleh berkuasa sementara, tapi kelak akan digilas oleh keadilan Allah.
Keadilan Hakiki Ada di Tangan Allah
Kita boleh kecewa pada negara, tetapi jangan pernah kehilangan iman pada Allah. Keadilan manusia bisa dibeli, bisa ditipu, bisa diatur. Tapi keadilan Allah mutlak dan pasti. Sebagai umat Islam, tugas kita bukan hanya mengutuk ketidakadilan, tapi juga menjadi agen keadilan dalam lingkup kecil: berlaku adil pada keluarga, pada pekerjaan, pada masyarakat sekitar. Itulah bekal agar kita tidak ikut menjadi bagian dari ketidakadilan yang kita benci.
Ketika negara tidak adil, kita bersuara. Ketika aparat menutup telinga, kita berdoa. Dan ketika semua pintu dunia tertutup, yakinlah: pintu Allah selalu terbuka. Sebab keadilan hakiki hanya milik Dia. Dan pada saatnya nanti, setiap penguasa, setiap pejabat, setiap rakyat akan berdiri sama rata di hadapan hakim yang Maha Adil.






























