Idul adha selalu datang membawa gema takbir, aroma pengorbanan, dan keramaian pembagian daging kurban. Namun di balik suasana religius itu, ada pertanyaan yang sering luput direnungkan: apa sebenarnya yang sedang disembelih dalam perayaan ini? Islam tentu tidak hanya mengajarkan tentang penyembelihan hewan semata, tetapi juga tentang penyembelihan sifat-sifat buruk yang bersarang di dalam diri manusia. Sebab kurban terbesar sejatinya bukan kambing atau sapi, melainkan ego manusia yang selama ini terlalu diagungkan.
Di tengah kehidupan modern, manusia justru sedang mengalami krisis batin yang semakin dalam. Kesombongan dipertontonkan sebagai gaya hidup, kekikiran dibungkus dengan alasan efisiensi, dan kemunafikan tumbuh dalam ruang sosial yang penuh pencitraan. Media sosial membuat banyak orang lebih sibuk terlihat baik daripada benar-benar menjadi baik. Manusia perlahan kehilangan kejujuran terhadap dirinya sendiri karena hidup di bawah tekanan pengakuan publik. Dalam situasi seperti inilah, Iduladha menemukan relevansinya sebagai momentum membersihkan jiwa dan memperbaiki arah kehidupan.
Muhammadiyah memandang ibadah bukan sekadar ritual simbolik, tetapi jalan transformasi sosial dan moral. Karena itu, Iduladha tidak boleh berhenti pada seremoni tahunan yang selesai setelah daging dibagikan. Semangat kurban harus melahirkan manusia yang lebih rendah hati, lebih peduli terhadap sesama, dan lebih jujur dalam menjalani hidup. Sebab ukuran ibadah dalam Islam bukan hanya pada banyaknya ritual, tetapi pada sejauh mana ibadah itu mengubah perilaku manusia menjadi lebih bermakna bagi kehidupan sosial.
Ibrahim dan Ismail: Kisah tentang Ketundukan Total
Makna terdalam Iduladha tidak dapat dilepaskan dari kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Ketika Allah memerintahkan Ibrahim menyembelih putra yang sangat dicintainya, sesungguhnya yang sedang diuji bukan sekadar keberanian seorang ayah. Allah sedang menguji apakah cinta manusia kepada dunia lebih besar daripada cintanya kepada Tuhan. Ismail bukan hanya seorang anak, tetapi simbol harapan, kebanggaan, dan kebahagiaan hidup Ibrahim setelah penantian panjang. Namun seorang nabi memahami bahwa segala yang dimiliki manusia hanyalah titipan yang sewaktu-waktu dapat diminta kembali oleh Sang Pencipta.
Yang membuat kisah ini begitu agung adalah jawaban Nabi Ismail kepada ayahnya. Dalam Al-Qur’an disebutkan, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. Ash-Shaffat: 102). Jawaban itu menunjukkan bahwa ketundukan kepada Allah bukan hanya dimiliki Ibrahim, tetapi juga diwariskan kepada anaknya. Tidak ada pemberontakan, tidak ada ketakutan yang berlebihan, melainkan kepasrahan yang lahir dari keyakinan penuh kepada Tuhan. Di situlah Iduladha menjadi simbol bahwa iman sering kali menuntut manusia untuk rela melepaskan apa yang paling dicintainya.
Dalam pandangan Muhammadiyah, spirit Ibrahim adalah teladan tentang pengorbanan demi kemaslahatan umat. Gerakan dakwah, pendidikan, dan pelayanan sosial yang dibangun Muhammadiyah lahir dari semangat memberi dan berkorban. Amal usaha Muhammadiyah tidak dibangun dengan kemewahan, tetapi dengan ketulusan kader yang rela menyumbangkan tenaga, pikiran, dan hartanya demi kemajuan masyarakat. Karena itu, Iduladha mengajarkan bahwa keberagamaan sejati harus melahirkan keberanian untuk memberi manfaat bagi sesama manusia.
Menyembelih Kesombongan dan Kekikiran
Salah satu penyakit terbesar manusia modern adalah kesombongan. Hari ini kesombongan tidak selalu hadir dalam bentuk penghinaan terang-terangan, tetapi muncul melalui budaya pamer yang dianggap biasa. Banyak orang merasa perlu menunjukkan kekayaan, jabatan, bahkan amal ibadahnya demi memperoleh pujian sosial. Padahal Nabi Muhammad saw. telah mengingatkan bahwa orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walau sebesar biji sawi tidak akan masuk surga. Kesombongan membuat manusia lupa bahwa semua yang dimilikinya hanyalah titipan yang dapat hilang kapan saja.
Selain kesombongan, Iduladha juga mengajarkan perlawanan terhadap kekikiran. Al-Qur’an menegaskan, “Barang siapa dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9). Ayat ini menunjukkan bahwa keberuntungan hidup tidak ditentukan oleh seberapa banyak harta yang dikumpulkan, tetapi oleh kemampuan berbagi kepada sesama. Dalam realitas hari ini, banyak orang mampu membeli kemewahan untuk dirinya sendiri, tetapi merasa berat membantu tetangga yang kesulitan makan. Kurban hadir untuk menghancurkan sifat individualisme itu dan mengingatkan bahwa dalam setiap rezeki terdapat hak orang lain yang harus ditunaikan.
Kemunafikan dan Hilangnya Kejujuran Sosial
Penyakit lain yang juga harus disembelih saat Iduladha adalah kemunafikan. Kemunafikan terjadi ketika ucapan dan tindakan tidak lagi berjalan di jalan yang sama. Seseorang tampak religius di depan publik, tetapi diam-diam memelihara kebohongan, pengkhianatan, dan ketidakjujuran. Fenomena ini semakin sering terlihat dalam kehidupan modern ketika citra lebih penting daripada integritas moral. Banyak orang pandai berbicara tentang agama, tetapi gagal menghadirkan nilai agama dalam perilakunya sendiri.
Nabi Muhammad saw. menjelaskan bahwa tanda orang munafik adalah ketika berbicara ia berdusta, ketika berjanji ia ingkar, dan ketika dipercaya ia berkhianat. Hadis ini terasa sangat relevan di tengah krisis moral yang melanda masyarakat hari ini. Korupsi, manipulasi jabatan, hingga eksploitasi atas nama agama sering dilakukan oleh mereka yang justru tampil saleh di ruang publik. Akibatnya, agama kehilangan daya moralnya karena hanya dipahami sebagai simbol formalitas. Padahal Islam datang bukan sekadar untuk memperbanyak ritual, tetapi membangun kejujuran dan keadilan sosial.
Filsuf Muslim Muhammad Iqbal pernah menulis bahwa manusia besar adalah manusia yang mampu menaklukkan dirinya sendiri. Kutipan itu menegaskan bahwa perjuangan terbesar bukan melawan orang lain, melainkan melawan keburukan dalam diri sendiri. Maka, Iduladha sejatinya bukan hanya tentang penyembelihan hewan kurban, tetapi momentum menyembelih kesombongan, kekikiran, dan kemunafikan yang perlahan merusak kemanusiaan. Sebab pada akhirnya, Allah tidak membutuhkan darah kurban manusia, melainkan hati yang bersih dan ketakwaan yang nyata.
































