Setiap tanggal 21 April, lini masa media sosial berubah wajah. Foto perempuan berkebaya memenuhi beranda, kutipan inspiratif bertebaran, dan nama R.A. Kartini kembali menjadi tren. Sekilas, ini tampak seperti bentuk penghormatan yang meriah. Namun di balik itu, muncul pertanyaan yang mengganggu: apakah Kartini benar-benar dirayakan, atau hanya dijadikan konten musiman?
Di era digital, perayaan tidak lagi terbatas pada ruang fisik. Media sosial menjadi panggung utama ekspresi publik. Namun, di panggung ini pula, makna sering kali direduksi menjadi visual yang menarik dan cepat dikonsumsi. Kartini pun tak luput dari fenomena ini.
Perayaan yang seharusnya menjadi refleksi, perlahan berubah menjadi rutinitas tahunan. Ia hadir, viral, lalu menghilang tanpa meninggalkan jejak kesadaran yang berarti. Di sinilah problem mulai terasa: ketika sejarah diperingati tanpa benar-benar dipahami.
Estetika yang Mengalahkan Makna
Tidak bisa dipungkiri, media sosial sangat bergantung pada visual. Konten yang menarik secara estetika cenderung lebih mudah mendapatkan perhatian. Dalam konteks Hari Kartini, hal ini terlihat dari banyaknya unggahan yang menampilkan kebaya, riasan tradisional, dan pose yang “Instagramable”.
Namun, di balik keindahan visual tersebut, sering kali makna menjadi nomor dua. Kartini direpresentasikan sebatas simbol budaya, bukan sebagai pemikir yang memperjuangkan pendidikan dan kesetaraan perempuan. Ia menjadi gambar, bukan gagasan.
Fenomena ini sejalan dengan konsep simulacra dari Jean Baudrillard, di mana realitas digantikan oleh representasi yang tampak lebih nyata daripada kenyataan itu sendiri. Dalam konteks ini, Kartini yang tampil di media sosial adalah “versi visual” yang tidak selalu mencerminkan perjuangannya yang sesungguhnya.
Akibatnya, publik lebih mengenal Kartini sebagai ikon daripada sebagai ide. Dan ketika ide hilang, yang tersisa hanyalah perayaan tanpa arah.
Algoritma dan Komodifikasi Perempuan
Media sosial tidak pernah netral. Ia digerakkan oleh algoritma yang mendorong konten tertentu untuk lebih terlihat. Dalam banyak kasus, konten yang menampilkan perempuan dengan visual menarik cenderung mendapatkan lebih banyak interaksi.
Di sinilah muncul persoalan yang lebih kompleks. Perempuan, yang seharusnya dirayakan dalam semangat emansipasi, justru berpotensi kembali menjadi objek. Konten Kartini yang viral sering kali lebih menonjolkan tampilan fisik daripada gagasan yang dibawa.
Kondisi ini mengingatkan pada teori male gaze yang dikemukakan oleh Laura Mulvey. Dalam perspektif ini, perempuan dilihat bukan sebagai subjek yang berpikir, tetapi sebagai objek yang dinikmati secara visual. Media sosial, secara tidak langsung, bisa memperkuat pola ini.
Maka muncul dilema: apakah perempuan sedang merayakan dirinya, atau justru tanpa sadar sedang menyesuaikan diri dengan standar yang ditentukan oleh algoritma dan selera publik?
Antara Ekspresi dan Eksploitasi
Perlu diakui, tidak semua konten tentang Kartini bermasalah. Banyak juga yang dibuat dengan niat baik, sebagai bentuk penghargaan dan ekspresi diri. Media sosial memang memberikan ruang bagi perempuan untuk tampil dan bersuara.
Namun, persoalan muncul ketika batas antara ekspresi dan eksploitasi menjadi kabur. Ketika konten dibuat bukan lagi untuk menyampaikan pesan, tetapi semata-mata untuk mendapatkan perhatian. Ketika makna dikalahkan oleh tren.
Dalam kondisi seperti ini, Kartini berisiko kehilangan substansinya. Ia menjadi alat untuk meningkatkan engagement, bukan lagi sumber inspirasi. Dan jika ini terus terjadi, maka perayaan Kartini hanya akan menjadi rutinitas digital tanpa dampak nyata.
Mengembalikan Kartini ke Kesadaran
Pertanyaannya kemudian: apakah kita harus berhenti merayakan Kartini di media sosial? Tentu tidak. Masalahnya bukan pada medianya, tetapi pada cara kita memaknai.
Media sosial justru bisa menjadi alat yang kuat untuk menyebarkan nilai-nilai Kartini. Namun, itu membutuhkan kesadaran. Bahwa di balik setiap unggahan, ada tanggung jawab untuk tidak sekadar tampil, tetapi juga menyampaikan pesan.
Kartini bukan hanya tentang kebaya, tetapi tentang keberanian berpikir. Ia bukan hanya simbol budaya, tetapi juga simbol perjuangan intelektual. Mengingatnya berarti melanjutkan semangatnya, bukan sekadar menirunya secara visual.
Kita bisa mulai dari hal sederhana: menambahkan konteks dalam setiap unggahan, mengangkat isu-isu perempuan hari ini, atau sekadar mengajak diskusi yang lebih bermakna. Dengan begitu, media sosial tidak hanya menjadi tempat perayaan, tetapi juga ruang pembelajaran.
Dari Konten ke Kesadaran
Kartini di media sosial adalah cermin dari cara kita memperlakukan sejarah. Apakah kita melihatnya sebagai sumber inspirasi, atau sekadar bahan konten? Jawabannya tergantung pada kesadaran kita sebagai pengguna.
Di era digital, semua orang bisa menjadi kreator. Namun tidak semua konten membawa makna. Di sinilah pentingnya memilih: apakah kita ingin sekadar ikut tren, atau benar-benar merayakan nilai.
Kartini tidak pernah memperjuangkan perempuan untuk menjadi objek. Ia memperjuangkan agar perempuan bisa berpikir, bersuara, dan dihargai sebagai manusia seutuhnya. Maka, merayakan Kartini seharusnya tidak berhenti pada visual, tetapi berlanjut pada kesadaran.
Karena pada akhirnya, yang dibutuhkan bukan lebih banyak konten tentang Kartini, tetapi lebih banyak orang yang memahami dan melanjutkan perjuangannya.
































