• About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak
Berkemajuan
  • Home
    • Home – Layout 1
    • Home – Layout 2
    • Home – Layout 3
    • Home – Layout 4
    • Home – Layout 5
  • News
    Daurah Tahfidz Camp Muhjitos perkuat Hafalan, Karakater, Dan Kebersamaan di Alam Terbuka

    Daurah Tahfidz Camp Muhjitos perkuat Hafalan, Karakater, Dan Kebersamaan di Alam Terbuka

    Keadilan yang Terlalu Mahal bagi Orang Miskin: Refleksi Akhir Tahun

    Keadilan yang Terlalu Mahal bagi Orang Miskin: Refleksi Akhir Tahun

    KOPMA UMS Gelar Seminar Nasional 2025, Hadirkan Praktisi untuk Tebarkan Semangat Wirausaha Berbasis Nilai Islam

    KOPMA UMS Gelar Seminar Nasional 2025, Hadirkan Praktisi untuk Tebarkan Semangat Wirausaha Berbasis Nilai Islam

    Cronbach’s Alpha Dianggap Usang, Prof. Ramayah Serukan Reformasi Metodologi Riset

    Cronbach’s Alpha Dianggap Usang, Prof. Ramayah Serukan Reformasi Metodologi Riset

    PonpesMu Manafi’ul ‘Ulum Sambi Tebar 1.000 Bibit Cabai dan Terong pada Resepsi Milad ke-113 Muhammadiyah Boyolali

    PonpesMu Manafi’ul ‘Ulum Sambi Tebar 1.000 Bibit Cabai dan Terong pada Resepsi Milad ke-113 Muhammadiyah Boyolali

    7.500 Peserta Padati Apel Milad 113 Muhammadiyah dan 107 Hizbul Wathan di Surakarta

    7.500 Peserta Padati Apel Milad 113 Muhammadiyah dan 107 Hizbul Wathan di Surakarta

  • Insight
    Kentut Digital: Jejak Kecil di Dunia Maya yang Baunya Bisa Abadi

    Kentut Digital: Jejak Kecil di Dunia Maya yang Baunya Bisa Abadi

    Menggali Hikmah di Balik Volatilitas: Perspektif Muhammadiyah tentang Aset Kripto di Era Digital

    Menggali Hikmah di Balik Volatilitas: Perspektif Muhammadiyah tentang Aset Kripto di Era Digital

    Bukan Rusak, Tapi Lelah: Fenomena Brainrot dalam Psikologi dan Al-Qur’an

    Bukan Rusak, Tapi Lelah: Fenomena Brainrot dalam Psikologi dan Al-Qur’an

    Pendidikan Tanpa Etika, Melahirkan Pintar tapi Tak Peka

    Pendidikan Tanpa Etika, Melahirkan Pintar tapi Tak Peka

    Kemiskinan Bukan Takdir, tapi Kegagalan Sistem

    Kemiskinan Bukan Takdir, tapi Kegagalan Sistem

    Gaji UMR, Mentalnya Miliarder

    Gaji UMR, Mentalnya Miliarder

  • Tajdid
    • All
    • Ekonomi
    • Pendidikan
    • Politik
    • Sosial
    Menggali Hikmah di Balik Volatilitas: Perspektif Muhammadiyah tentang Aset Kripto di Era Digital

    Menggali Hikmah di Balik Volatilitas: Perspektif Muhammadiyah tentang Aset Kripto di Era Digital

    Pendidikan Tanpa Etika, Melahirkan Pintar tapi Tak Peka

    Pendidikan Tanpa Etika, Melahirkan Pintar tapi Tak Peka

    Gaji UMR, Mentalnya Miliarder

    Gaji UMR, Mentalnya Miliarder

    Nilai Naik, Mutu Turun? Catatan Akhir Tahun Dunia Pendidikan Kita

    Nilai Naik, Mutu Turun? Catatan Akhir Tahun Dunia Pendidikan Kita

    Program Anti-Bullying Hanya Wacana? Ketika Sekolah Tak Lagi Aman bagi Anak

    Program Anti-Bullying Hanya Wacana? Ketika Sekolah Tak Lagi Aman bagi Anak

    Rahasia Biologis Waktu Shalat: Membaca Hikmah Sains dalam Ritme Tubuh Manusia

    Rahasia Biologis Waktu Shalat: Membaca Hikmah Sains dalam Ritme Tubuh Manusia

    Trending Tags

    • Penelitian
    • Humaniora
    • Moderasi
    • Kabarmu
    • Risalah
  • Artikel
    Kartini di Media Sosial: Dirayakan atau Sekadar Dijadikan Konten?

    Kartini di Media Sosial: Dirayakan atau Sekadar Dijadikan Konten?

    Alarm Sahur Seorang Ibu: Kenikmatan yang Tak Pernah Tertulis

    Alarm Sahur Seorang Ibu: Kenikmatan yang Tak Pernah Tertulis

    Fenomena Vape di Kalangan Remaja: Gaya Hidup atau Bahaya Tersembunyi?

    Perbandingan Dampak Kesehatan Rokok Konvensional dan Rokok Elektronik

    Takut Mati vs Sadar Mati: Dua Jalan yang Mengubah Cara Kita Hidup

    Takut Mati vs Sadar Mati: Dua Jalan yang Mengubah Cara Kita Hidup

    Ramadhan: Bulan Service Tubuh dan Upgrade Takwa

    Ramadhan: Bulan Service Tubuh dan Upgrade Takwa

    Tiga Lapis Puasa Menurut Imam Ghazali: Dari Perut ke Peradaban

    Tiga Lapis Puasa Menurut Imam Ghazali: Dari Perut ke Peradaban

  • Infografis
  • Risalah
    Isra’ Mi’raj: Sejarah Penderitaan Nabi yang Jarang Diceritakan

    Isra’ Mi’raj: Sejarah Penderitaan Nabi yang Jarang Diceritakan

    Checkpoint Spiritual: Sholat Jumat dan Laki-Laki dalam Ritme Peradaban

    Checkpoint Spiritual: Sholat Jumat dan Laki-Laki dalam Ritme Peradaban

    Redefinisi Hijrah Populer

    Redefinisi Hijrah Populer

    Mengungkap Dua Al-Masih: Isa sang Penyelamat, Dajjal sang Pendusta

    Mengungkap Dua Al-Masih: Isa sang Penyelamat, Dajjal sang Pendusta

No Result
View All Result
  • Home
    • Home – Layout 1
    • Home – Layout 2
    • Home – Layout 3
    • Home – Layout 4
    • Home – Layout 5
  • News
    Daurah Tahfidz Camp Muhjitos perkuat Hafalan, Karakater, Dan Kebersamaan di Alam Terbuka

    Daurah Tahfidz Camp Muhjitos perkuat Hafalan, Karakater, Dan Kebersamaan di Alam Terbuka

    Keadilan yang Terlalu Mahal bagi Orang Miskin: Refleksi Akhir Tahun

    Keadilan yang Terlalu Mahal bagi Orang Miskin: Refleksi Akhir Tahun

    KOPMA UMS Gelar Seminar Nasional 2025, Hadirkan Praktisi untuk Tebarkan Semangat Wirausaha Berbasis Nilai Islam

    KOPMA UMS Gelar Seminar Nasional 2025, Hadirkan Praktisi untuk Tebarkan Semangat Wirausaha Berbasis Nilai Islam

    Cronbach’s Alpha Dianggap Usang, Prof. Ramayah Serukan Reformasi Metodologi Riset

    Cronbach’s Alpha Dianggap Usang, Prof. Ramayah Serukan Reformasi Metodologi Riset

    PonpesMu Manafi’ul ‘Ulum Sambi Tebar 1.000 Bibit Cabai dan Terong pada Resepsi Milad ke-113 Muhammadiyah Boyolali

    PonpesMu Manafi’ul ‘Ulum Sambi Tebar 1.000 Bibit Cabai dan Terong pada Resepsi Milad ke-113 Muhammadiyah Boyolali

    7.500 Peserta Padati Apel Milad 113 Muhammadiyah dan 107 Hizbul Wathan di Surakarta

    7.500 Peserta Padati Apel Milad 113 Muhammadiyah dan 107 Hizbul Wathan di Surakarta

  • Insight
    Kentut Digital: Jejak Kecil di Dunia Maya yang Baunya Bisa Abadi

    Kentut Digital: Jejak Kecil di Dunia Maya yang Baunya Bisa Abadi

    Menggali Hikmah di Balik Volatilitas: Perspektif Muhammadiyah tentang Aset Kripto di Era Digital

    Menggali Hikmah di Balik Volatilitas: Perspektif Muhammadiyah tentang Aset Kripto di Era Digital

    Bukan Rusak, Tapi Lelah: Fenomena Brainrot dalam Psikologi dan Al-Qur’an

    Bukan Rusak, Tapi Lelah: Fenomena Brainrot dalam Psikologi dan Al-Qur’an

    Pendidikan Tanpa Etika, Melahirkan Pintar tapi Tak Peka

    Pendidikan Tanpa Etika, Melahirkan Pintar tapi Tak Peka

    Kemiskinan Bukan Takdir, tapi Kegagalan Sistem

    Kemiskinan Bukan Takdir, tapi Kegagalan Sistem

    Gaji UMR, Mentalnya Miliarder

    Gaji UMR, Mentalnya Miliarder

  • Tajdid
    • All
    • Ekonomi
    • Pendidikan
    • Politik
    • Sosial
    Menggali Hikmah di Balik Volatilitas: Perspektif Muhammadiyah tentang Aset Kripto di Era Digital

    Menggali Hikmah di Balik Volatilitas: Perspektif Muhammadiyah tentang Aset Kripto di Era Digital

    Pendidikan Tanpa Etika, Melahirkan Pintar tapi Tak Peka

    Pendidikan Tanpa Etika, Melahirkan Pintar tapi Tak Peka

    Gaji UMR, Mentalnya Miliarder

    Gaji UMR, Mentalnya Miliarder

    Nilai Naik, Mutu Turun? Catatan Akhir Tahun Dunia Pendidikan Kita

    Nilai Naik, Mutu Turun? Catatan Akhir Tahun Dunia Pendidikan Kita

    Program Anti-Bullying Hanya Wacana? Ketika Sekolah Tak Lagi Aman bagi Anak

    Program Anti-Bullying Hanya Wacana? Ketika Sekolah Tak Lagi Aman bagi Anak

    Rahasia Biologis Waktu Shalat: Membaca Hikmah Sains dalam Ritme Tubuh Manusia

    Rahasia Biologis Waktu Shalat: Membaca Hikmah Sains dalam Ritme Tubuh Manusia

    Trending Tags

    • Penelitian
    • Humaniora
    • Moderasi
    • Kabarmu
    • Risalah
  • Artikel
    Kartini di Media Sosial: Dirayakan atau Sekadar Dijadikan Konten?

    Kartini di Media Sosial: Dirayakan atau Sekadar Dijadikan Konten?

    Alarm Sahur Seorang Ibu: Kenikmatan yang Tak Pernah Tertulis

    Alarm Sahur Seorang Ibu: Kenikmatan yang Tak Pernah Tertulis

    Fenomena Vape di Kalangan Remaja: Gaya Hidup atau Bahaya Tersembunyi?

    Perbandingan Dampak Kesehatan Rokok Konvensional dan Rokok Elektronik

    Takut Mati vs Sadar Mati: Dua Jalan yang Mengubah Cara Kita Hidup

    Takut Mati vs Sadar Mati: Dua Jalan yang Mengubah Cara Kita Hidup

    Ramadhan: Bulan Service Tubuh dan Upgrade Takwa

    Ramadhan: Bulan Service Tubuh dan Upgrade Takwa

    Tiga Lapis Puasa Menurut Imam Ghazali: Dari Perut ke Peradaban

    Tiga Lapis Puasa Menurut Imam Ghazali: Dari Perut ke Peradaban

  • Infografis
  • Risalah
    Isra’ Mi’raj: Sejarah Penderitaan Nabi yang Jarang Diceritakan

    Isra’ Mi’raj: Sejarah Penderitaan Nabi yang Jarang Diceritakan

    Checkpoint Spiritual: Sholat Jumat dan Laki-Laki dalam Ritme Peradaban

    Checkpoint Spiritual: Sholat Jumat dan Laki-Laki dalam Ritme Peradaban

    Redefinisi Hijrah Populer

    Redefinisi Hijrah Populer

    Mengungkap Dua Al-Masih: Isa sang Penyelamat, Dajjal sang Pendusta

    Mengungkap Dua Al-Masih: Isa sang Penyelamat, Dajjal sang Pendusta

No Result
View All Result
berkemajuan.id
No Result
View All Result
Home Artikel

Kartini di Media Sosial: Dirayakan atau Sekadar Dijadikan Konten?

Henra Sartono Birahim by Henra Sartono Birahim
April 26, 2026
Kartini di Media Sosial: Dirayakan atau Sekadar Dijadikan Konten?
Share on FacebookShare on Twitter

Setiap tanggal 21 April, lini masa media sosial berubah wajah. Foto perempuan berkebaya memenuhi beranda, kutipan inspiratif bertebaran, dan nama R.A. Kartini kembali menjadi tren. Sekilas, ini tampak seperti bentuk penghormatan yang meriah. Namun di balik itu, muncul pertanyaan yang mengganggu: apakah Kartini benar-benar dirayakan, atau hanya dijadikan konten musiman?

Di era digital, perayaan tidak lagi terbatas pada ruang fisik. Media sosial menjadi panggung utama ekspresi publik. Namun, di panggung ini pula, makna sering kali direduksi menjadi visual yang menarik dan cepat dikonsumsi. Kartini pun tak luput dari fenomena ini.

Perayaan yang seharusnya menjadi refleksi, perlahan berubah menjadi rutinitas tahunan. Ia hadir, viral, lalu menghilang tanpa meninggalkan jejak kesadaran yang berarti. Di sinilah problem mulai terasa: ketika sejarah diperingati tanpa benar-benar dipahami.

Estetika yang Mengalahkan Makna

Tidak bisa dipungkiri, media sosial sangat bergantung pada visual. Konten yang menarik secara estetika cenderung lebih mudah mendapatkan perhatian. Dalam konteks Hari Kartini, hal ini terlihat dari banyaknya unggahan yang menampilkan kebaya, riasan tradisional, dan pose yang “Instagramable”.

Namun, di balik keindahan visual tersebut, sering kali makna menjadi nomor dua. Kartini direpresentasikan sebatas simbol budaya, bukan sebagai pemikir yang memperjuangkan pendidikan dan kesetaraan perempuan. Ia menjadi gambar, bukan gagasan.

Fenomena ini sejalan dengan konsep simulacra dari Jean Baudrillard, di mana realitas digantikan oleh representasi yang tampak lebih nyata daripada kenyataan itu sendiri. Dalam konteks ini, Kartini yang tampil di media sosial adalah “versi visual” yang tidak selalu mencerminkan perjuangannya yang sesungguhnya.

Akibatnya, publik lebih mengenal Kartini sebagai ikon daripada sebagai ide. Dan ketika ide hilang, yang tersisa hanyalah perayaan tanpa arah.

Algoritma dan Komodifikasi Perempuan

Media sosial tidak pernah netral. Ia digerakkan oleh algoritma yang mendorong konten tertentu untuk lebih terlihat. Dalam banyak kasus, konten yang menampilkan perempuan dengan visual menarik cenderung mendapatkan lebih banyak interaksi.

Di sinilah muncul persoalan yang lebih kompleks. Perempuan, yang seharusnya dirayakan dalam semangat emansipasi, justru berpotensi kembali menjadi objek. Konten Kartini yang viral sering kali lebih menonjolkan tampilan fisik daripada gagasan yang dibawa.

Kondisi ini mengingatkan pada teori male gaze yang dikemukakan oleh Laura Mulvey. Dalam perspektif ini, perempuan dilihat bukan sebagai subjek yang berpikir, tetapi sebagai objek yang dinikmati secara visual. Media sosial, secara tidak langsung, bisa memperkuat pola ini.

Maka muncul dilema: apakah perempuan sedang merayakan dirinya, atau justru tanpa sadar sedang menyesuaikan diri dengan standar yang ditentukan oleh algoritma dan selera publik?

Antara Ekspresi dan Eksploitasi

Perlu diakui, tidak semua konten tentang Kartini bermasalah. Banyak juga yang dibuat dengan niat baik, sebagai bentuk penghargaan dan ekspresi diri. Media sosial memang memberikan ruang bagi perempuan untuk tampil dan bersuara.

Namun, persoalan muncul ketika batas antara ekspresi dan eksploitasi menjadi kabur. Ketika konten dibuat bukan lagi untuk menyampaikan pesan, tetapi semata-mata untuk mendapatkan perhatian. Ketika makna dikalahkan oleh tren.

Dalam kondisi seperti ini, Kartini berisiko kehilangan substansinya. Ia menjadi alat untuk meningkatkan engagement, bukan lagi sumber inspirasi. Dan jika ini terus terjadi, maka perayaan Kartini hanya akan menjadi rutinitas digital tanpa dampak nyata.

Mengembalikan Kartini ke Kesadaran

Pertanyaannya kemudian: apakah kita harus berhenti merayakan Kartini di media sosial? Tentu tidak. Masalahnya bukan pada medianya, tetapi pada cara kita memaknai.

Media sosial justru bisa menjadi alat yang kuat untuk menyebarkan nilai-nilai Kartini. Namun, itu membutuhkan kesadaran. Bahwa di balik setiap unggahan, ada tanggung jawab untuk tidak sekadar tampil, tetapi juga menyampaikan pesan.

Kartini bukan hanya tentang kebaya, tetapi tentang keberanian berpikir. Ia bukan hanya simbol budaya, tetapi juga simbol perjuangan intelektual. Mengingatnya berarti melanjutkan semangatnya, bukan sekadar menirunya secara visual.

Kita bisa mulai dari hal sederhana: menambahkan konteks dalam setiap unggahan, mengangkat isu-isu perempuan hari ini, atau sekadar mengajak diskusi yang lebih bermakna. Dengan begitu, media sosial tidak hanya menjadi tempat perayaan, tetapi juga ruang pembelajaran.

Dari Konten ke Kesadaran

Kartini di media sosial adalah cermin dari cara kita memperlakukan sejarah. Apakah kita melihatnya sebagai sumber inspirasi, atau sekadar bahan konten? Jawabannya tergantung pada kesadaran kita sebagai pengguna.

Di era digital, semua orang bisa menjadi kreator. Namun tidak semua konten membawa makna. Di sinilah pentingnya memilih: apakah kita ingin sekadar ikut tren, atau benar-benar merayakan nilai.

Kartini tidak pernah memperjuangkan perempuan untuk menjadi objek. Ia memperjuangkan agar perempuan bisa berpikir, bersuara, dan dihargai sebagai manusia seutuhnya. Maka, merayakan Kartini seharusnya tidak berhenti pada visual, tetapi berlanjut pada kesadaran.

Karena pada akhirnya, yang dibutuhkan bukan lebih banyak konten tentang Kartini, tetapi lebih banyak orang yang memahami dan melanjutkan perjuangannya.

Henra Sartono Birahim

Henra Sartono Birahim

Recommended.

Program Anti-Bullying Hanya Wacana? Ketika Sekolah Tak Lagi Aman bagi Anak

Program Anti-Bullying Hanya Wacana? Ketika Sekolah Tak Lagi Aman bagi Anak

October 29, 2025
Takut Mati vs Sadar Mati: Dua Jalan yang Mengubah Cara Kita Hidup

Takut Mati vs Sadar Mati: Dua Jalan yang Mengubah Cara Kita Hidup

March 11, 2026

Trending.

Konsep Kebutuhan dalam Islam

Konsep Kebutuhan dalam Islam

June 16, 2025
Hijrah Digital: Tetap Islami di Tengah Arus Media Sosial

Hijrah Digital: Tetap Islami di Tengah Arus Media Sosial

July 9, 2025
Meningkatnya Perilaku Merokok pada Remaja : Ancaman Serius Generasi Muda

Meningkatnya Perilaku Merokok pada Remaja : Ancaman Serius Generasi Muda

February 16, 2026
Kurban dan Pesan Kemanusiaan yang Tak Terbantahkan

Kurban dan Pesan Kemanusiaan yang Tak Terbantahkan

June 13, 2025
Ritual Tanpa Ruh: Saat Ibadah Menjadi Formalitas dan Hati Kehilangan Arah

Ritual Tanpa Ruh: Saat Ibadah Menjadi Formalitas dan Hati Kehilangan Arah

October 20, 2025
  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak
Call us: +6285234007456

© 2025 - berkemajuan.id - "Memajukan & Memanusiakan" by Rozaq

No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Liputan Khusus
  • Infografis
  • Artikel
  • Insight
  • Tajdid
    • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Sosial
  • Photography
  • Risalah

© 2025 - berkemajuan.id - "Memajukan & Memanusiakan" by Rozaq