Ada sesuatu yang sangat menyentuh dalam tradisi Islam ketika seorang bayi baru lahir. Tubuhnya masih kecil, matanya bahkan belum mampu melihat dunia dengan jelas, tetapi di telinganya sudah dikumandangkan azan. Kalimat pertama yang menyentuh pendengarannya bukan suara pasar, bukan suara politik, bukan pula hiruk-pikuk dunia, melainkan panggilan tentang kebesaran Allah. Seolah sejak awal kehidupan, manusia sudah diberi tahu bahwa dunia hanyalah persinggahan sementara dan Tuhan adalah tujuan akhirnya.
Menariknya, ketika manusia meninggal dunia, ia kembali diantar dengan suasana yang hampir serupa. Ada kalimat tauhid, ada doa, ada panggilan menuju Allah, tetapi tanpa azan dan tanpa iqamah. Karena sesungguhnya, menurut sebagian ulama, hidup manusia itu sendiri adalah jeda antara azan dan salat. Kita lahir diadzankan, lalu menjalani kehidupan yang singkat, sebelum akhirnya “salat” itu ditunaikan dalam bentuk kematian. Sebuah simbol yang sederhana, tetapi begitu filosofis dan mengguncang batin.
Tradisi azan di telinga bayi memiliki landasan dari hadis riwayat Abu Dawud yang menjelaskan bahwa Nabi Muhammad saw. pernah mengazankan Hasan bin Ali ketika baru lahir. Para ulama memahami bahwa azan bukan hanya ritual, tetapi doa agar hidup seorang anak sejak awal terhubung dengan tauhid. Dalam konteks ini, Islam tidak sekadar menyambut kelahiran secara biologis, tetapi juga menyambut lahirnya ruh yang akan menempuh perjalanan panjang menuju Tuhan.
Dunia yang Hanya Singgah Sebentar
Manusia sering merasa hidupnya panjang, padahal Al-Qur’an berkali-kali mengingatkan bahwa usia dunia sangatlah singkat. Dalam QS. Al-Mu’minun ayat 112-114, Allah menggambarkan bagaimana manusia kelak merasa hidup di dunia hanya sehari atau setengah hari saja. Ayat ini memperlihatkan betapa rapuhnya seluruh ambisi manusia dibandingkan dengan keabadian akhirat. Rumah yang dibangun bertahun-tahun, jabatan yang diperebutkan mati-matian, hingga konflik yang diwariskan turun-temurun, semuanya perlahan akan kehilangan makna di hadapan kematian.
Filsuf Muslim Al-Ghazali pernah menulis bahwa manusia terlalu sibuk mencintai dunia yang sementara, hingga lupa mempersiapkan dirinya untuk pulang kepada Allah. Menurutnya, hati manusia ibarat cermin; semakin dipenuhi debu dunia, semakin sulit memantulkan cahaya ketuhanan. Karena itu, kesadaran tentang kematian dalam Islam bukan dimaksudkan untuk menakut-nakuti manusia, tetapi untuk membuat hidup menjadi lebih bermakna. Orang yang sadar hidupnya sementara biasanya lebih mudah memaafkan, lebih tulus mencintai, dan lebih rendah hati menjalani kehidupan.
Di sinilah azan kelahiran dan suasana kematian saling bertemu dalam makna yang dalam. Azan seakan menjadi pengingat bahwa sejak lahir manusia sudah berjalan menuju kepulangannya. Kita hanya diberi waktu singkat untuk menjadi baik, mencintai sesama, dan memperbaiki diri sebelum akhirnya dipanggil kembali. Maka hidup bukan soal siapa paling kaya atau paling terkenal, tetapi siapa yang paling siap pulang dengan hati yang tenang.
Azan: Panggilan Cinta yang Tidak Pernah Putus
Banyak orang memahami azan hanya sebagai penanda waktu salat. Padahal secara spiritual, azan adalah panggilan cinta dari Allah kepada manusia. Lima kali sehari Tuhan memanggil hamba-Nya bukan karena Allah membutuhkan ibadah manusia, tetapi karena manusia yang membutuhkan kedekatan dengan-Nya. Kalimat Hayya ‘alash shalah bukan sekadar ajakan ritual, melainkan undangan untuk kembali menenangkan jiwa yang lelah oleh dunia. Dalam kehidupan modern yang penuh kecemasan, azan sebenarnya adalah terapi spiritual yang sering diabaikan.
Ketika bayi diadzankan, seolah Allah sedang berkata bahwa manusia tidak pernah lahir sendirian. Ada cinta Tuhan yang langsung menyambut kehadirannya di dunia. Dan ketika manusia meninggal, doa-doa kembali mengantarkannya pulang dalam suasana penuh pengharapan kepada rahmat Allah. Dari lahir hingga mati, hidup manusia ternyata selalu dilingkupi kasih sayang Tuhan yang bekerja dengan cara-cara sunyi. Bahkan ketika manusia sering lupa kepada-Nya, Allah tetap membuka pintu ampunan dan menerima taubat hamba-Nya.
Dalam pandangan Muhammadiyah, Islam bukan agama yang membangun ketakutan berlebihan terhadap Tuhan, tetapi agama yang menumbuhkan optimisme dan harapan. Karena itu, kematian dalam Islam bukan akhir dari segalanya, melainkan awal perjalanan menuju kehidupan yang lebih abadi. Kesadaran ini membuat seorang Muslim tidak hanya fokus mengejar dunia, tetapi juga membangun amal dan kebermanfaatan sosial selama hidupnya. Sebab yang akan dibawa pulang bukan harta dan popularitas, melainkan amal baik yang pernah dilakukan untuk sesama manusia.
Jeda Pendek antara Azan dan Salat
Ada renungan yang sering disampaikan para ulama: saat lahir manusia diadzankan tetapi belum salat, sementara saat meninggal manusia disalatkan tetapi tidak lagi mendengar azan. Dari situ muncul makna bahwa hidup hanyalah jeda pendek antara azan dan salat. Sebagian orang jedanya panjang hingga puluhan tahun, sebagian lain sangat singkat bahkan hanya hitungan hari. Namun pada akhirnya, semua manusia akan sampai pada titik yang sama: kembali kepada Allah.
Kesadaran inilah yang membuat hidup seharusnya dijalani dengan lebih lembut dan penuh makna. Tidak semua hal perlu diperdebatkan dengan kebencian, tidak semua ambisi harus dikejar dengan menghalalkan segala cara. Dunia terlalu singkat untuk diisi kesombongan dan permusuhan yang tidak perlu. Nabi Muhammad saw. sendiri mengingatkan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. Karena itu, ukuran hidup yang baik dalam Islam bukan hanya tentang kesalehan pribadi, tetapi juga tentang bagaimana kehadiran seseorang menghadirkan kebaikan bagi lingkungan sekitarnya.
Pada akhirnya, lahir diadzankan dan mati disalatkan adalah simbol cinta Allah yang begitu indah kepada manusia. Tuhan tidak membiarkan manusia datang ke dunia tanpa arah, dan tidak pula membiarkannya pulang tanpa doa. Dari tangisan pertama saat lahir hingga keheningan terakhir di liang lahat, manusia selalu berada dalam pelukan kasih sayang-Nya. Maka mungkin hidup ini memang singkat, tetapi selama masih ada azan yang terdengar dan hati yang mau kembali kepada Tuhan, selalu ada harapan untuk menjadi manusia yang lebih baik sebelum benar-benar pulang.
































